Skip to content

Bakat Musik VS Kemauan

    Bayangkan seorang anak dengan piano di rumah, telinga musikal yang tajam, kemampuan membaca not yang baik, dan dukungan finansial penuh dari orang tua—tetapi akhirnya berhenti belajar musik. Kedengarannya ironis, bukan? Namun inilah kenyataan yang sering terjadi: Bakat Musik yang besar dapat menjadi sia-sia ketika tidak disertai Kemauan untuk berproses. Dalam perjalanan belajar musik, kemampuan alami memang bisa memberi awal yang lebih mudah, tetapi Kemauan adalah faktor yang menentukan siapa yang benar-benar bertahan hingga berhasil.

    bakat musik vs. kemauan

    Kisah Seorang Murid Berbakat

    Beberapa bulan lalu, saya bertemu seorang murid yang memiliki Bakat Musik cukup baik. Ia sudah mencapai Grade 6, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan teknik, pemahaman musik, dan potensi yang tidak sedikit.

    Secara teori, murid ini memiliki hampir semua faktor yang dibutuhkan untuk sukses belajar musik. Ia mempunyai piano di rumah untuk latihan. Ia memiliki Bakat Musik. Orang tuanya juga mendukung penuh, termasuk secara finansial, agar ia dapat terus mengikuti pelajaran musik.

    Banyak orang mungkin akan berkata, “Anak seperti ini pasti akan maju dengan cepat.” Sayangnya, kenyataannya tidak selalu demikian.

    Ketika Kemauan Tidak Hadir

    Dari bulan ke bulan, kemajuan belajarnya sangat lambat. Penyebabnya bukan karena materi terlalu sulit atau gurunya kurang memberikan arahan. Masalah utamanya adalah ia tidak, atau sangat jarang, berlatih di rumah.

    Selain itu, ia beberapa kali bolos dan sering datang terlambat ke kelas. Ketika masuk ke jenjang SMA, tantangan semakin besar. Jadwal sekolah, tugas, kegiatan sosial, dan berbagai distraksi membuat musik bukan lagi prioritas baginya.

    Orang tuanya pun mulai kesulitan menasihati. Pada usia remaja, anak tentu ingin memiliki pilihan dan suara atas hidupnya sendiri. Pada akhirnya, murid tersebut memutuskan untuk menyerah dan berhenti belajar musik.

    Kisah ini meninggalkan sebuah pertanyaan penting: jika seseorang memiliki Bakat, alat musik, guru, dan dukungan orang tua, mengapa ia tetap tidak berhasil melanjutkan proses belajarnya?

    Jawabannya sederhana, tetapi sangat penting: karena ia tidak memiliki Kemauan yang cukup kuat.

    Bakat Membuka Pintu, Kemauan Menentukan Perjalanan

    Bakat Musik memang memberi keuntungan pada tahap awal. Anak yang berbakat mungkin lebih cepat menangkap nada, memiliki sense of rhythm yang baik, lebih mudah menghafal lagu, atau mampu memainkan teknik tertentu dengan lebih cepat.

    Namun, musik bukan hanya soal kemampuan alami. Musik adalah hasil dari latihan yang konsisten, kesabaran, disiplin, dan keberanian untuk terus mencoba saat menghadapi kesulitan.

    Tidak ada pemain piano, violinist, guitarist, atau singer yang berkembang hanya karena Bakat Musik. Mereka berkembang karena mau mengulang scales, arpeggio, sight-reading, teknik jari, teori musik, dan repertoire berkali-kali. Mereka tetap berlatih bahkan ketika mood sedang tidak baik.

    Dalam bahasa sederhana: Bakat Musik membuat seseorang terlihat menjanjikan, tetapi Kemauan membuat seseorang benar-benar berhasil.

    Kemauan Bisa Mengalahkan Bakat Musik

    Saya telah melihat banyak murid dengan Bakat sedang atau biasa saja, tetapi memiliki Kemauan yang luar biasa. Mereka mungkin tidak cepat memahami lagu baru. Mereka mungkin perlu waktu lebih lama untuk memainkan sebuah piece dengan rapi. Namun, mereka datang tepat waktu, mencatat koreksi dari guru, dan berlatih secara rutin di rumah.

    Hasilnya? Dalam beberapa tahun, mereka sering kali mampu melampaui murid yang lebih berbakat tetapi malas berlatih.

    Ini bukan berarti Bakat Musik tidak penting. Bakat tetap merupakan nilai tambah. Namun, tanpa Kemauan, Bakat hanya menjadi potensi yang tidak pernah berkembang.

    Sebaliknya, anak dengan Kemauan tinggi akan terus mencari cara untuk maju. Ia akan belajar dari kesalahan, menerima kritik, dan tidak mudah berhenti ketika menemukan bagian lagu yang sulit.

    Bagaimana apabila anda harus memilih bakat musik vs kemauan? Karena di dunia ini biasanya sulit untuk mendapatkan semuanya?

    Jika Harus Memilih: Bakat Musik atau Kemauan?

    Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak memiliki keduanya: Bakat Musik dan Kemauan yang kuat. Kombinasi ini adalah modal yang sangat baik.

    Namun, jika harus memilih salah satu, saya lebih memilih anak yang memiliki Kemauan tinggi meskipun Bakat Musik-nya biasa saja.

    Mengapa? Karena Kemauan dapat dilatih dan dipelihara melalui kebiasaan. Anak dapat belajar bertanggung jawab, menghargai proses, menetapkan target kecil, dan menikmati perkembangan dirinya. Dengan Kemauan, tantangan dapat dihadapi satu per satu.

    Sementara itu, Bakat Musik tanpa usaha sering kali berhenti sebagai cerita: “Dulu sebenarnya dia sangat berbakat.”

    Peran Orang Tua dalam Menjaga Kemauan Anak

    Orang tua tidak perlu terlalu cepat bertanya, “Apakah anak saya berbakat musik?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana saya membantu anak saya membangun Kemauan untuk belajar?”

    Berikan target yang realistis, puji usaha bukan hanya hasil, buat jadwal latihan yang konsisten, dan jangan membandingkan anak dengan murid lain. Jadikan musik sebagai pengalaman yang meaningful, bukan beban.

    Pada akhirnya, kesuksesan dalam musik—dan juga dalam kehidupan—lebih banyak ditentukan oleh Kemauan daripada sekadar Bakat Musik. Karena orang yang mau belajar, mau berlatih, dan mau bertahan, selalu memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.

    Written by: Kurnia Kwik – Dutanada Music School Principal

    Bakat Musik VS Kemauan

    He shares his thoughts based on more than two decades of experience building and developing a music school since 2003. Through years of teaching, mentoring students, working with parents, and developing music education programs, Kurnia believes that musical progress is shaped not only by talent, but also by consistency, discipline, and a willingness to learn.