Skip to content

Buang Waktu? Jangan Sampai Latihan Piano Anak Salah Arah

    Pernah merasa anak sudah latihan musik bertahun-tahun, tapi hasilnya masih “biasa saja”? Masalahnya mungkin bukan pada bakat, melainkan pada alat latihan yang dipakai setiap hari. Dalam dunia piano, detail kecil bisa menentukan masa depan musikal seorang anak. Dan sering kali, yang terlihat sederhana justru menjadi pembeda paling besar antara sekadar bisa main lagu dan benar-benar punya musical expression.

    Pertemuan yang Membuka Mata

    Cerita ini bermula dari sebuah reuni SMA. Saya bertemu kembali dengan teman sebangku, sebut saja Sudibyo. Setelah saling bertukar kabar tentang pekerjaan, keluarga, dan anak-anak, pembicaraan kami masuk ke topik music education. Dari situlah ia mengaku, dengan nada kecewa, bahwa selama dua tahun terakhir ia merasa telah “buang waktu” untuk pendidikan musik anaknya.

    Anak perempuannya, Nadia, sudah les piano selama dua tahun. Selama itu, menurut Sudibyo, hasilnya cukup memuaskan. Nadia bisa memainkan beberapa lagu classical dan juga lagu favorit lain. Bagi orang tua, itu tentu terdengar seperti progres yang baik.

    Komentar yang Mengubah Segalanya

    Masalah muncul ketika Sudibyo berkunjung ke rumah sepupunya, seorang pianist yang sangat mahir dalam classical piano. Sepupunya belajar di Conservatory Jerman, jadi soal technique dan interpretation tentu bukan hal baru baginya. Dengan bangga, Sudibyo meminta Nadia memainkan dua lagu pilihannya.

    Setelah mendengar permainan Nadia, sepupunya berkata sesuatu yang membuat Sudibyo terdiam: Nadia bisa memainkan lagu dengan baik, tetapi dia tidak punya touch pada tuts piano. Dalam piano playing, touch bukan sekadar cara menekan tuts. Touch adalah kemampuan untuk menghasilkan warna bunyi, kontrol dinamika, dan rasa dalam lagu. Tanpa touch, permainan terdengar rata, datar, dan kurang hidup.

    Piano Upright Vs Piano Digital

    Piano Touch: Lebih dari Sekadar Menekan Tuts

    Sudibyo bingung. Menurutnya, Nadia sudah bermain dengan baik. Tetapi sepupunya menjelaskan bahwa membaca not saja tidak cukup. Jika jari-jari tidak cukup kuat, maka bagian yang seharusnya dimainkan forte tidak akan berbeda jelas dari bagian yang lembut. Akibatnya, lagu kehilangan kontras, karakter, dan jiwa.

    Di sinilah letak pentingnya technical foundation. Seorang murid musik mungkin terlihat sudah “bisa main”, tetapi jika latihan dilakukan dengan alat yang kurang tepat, hasilnya bisa menyesatkan. Anak memang tetap bergerak maju, tetapi arah kemajuannya tidak optimal.

    Keyboard Bukan Piano

    Ketika ditanya apakah Nadia berlatih dengan piano atau keyboard, Sudibyo menjawab bahwa selama ini anaknya latihan dengan keyboard. Di sinilah semuanya menjadi jelas. Piano dan keyboard memang mirip secara visual, tetapi feel dan resistensinya sangat berbeda.

    Pada piano, jari harus bekerja lebih aktif. Untuk menghasilkan suara yang bagus, pemain harus menekan tuts dengan kontrol dan tenaga yang tepat. Sementara pada keyboard, tuts terasa lebih ringan. Suara bisa keluar dengan sentuhan yang minim. Karena itu, anak yang terlalu lama berlatih di keyboard sering kesulitan saat pindah ke piano sungguhan. Jari terbiasa dengan tekanan yang ringan, sehingga butuh waktu untuk membangun kekuatan dan touch yang benar.

    Ini mirip seperti orang yang terbiasa menulis dengan tangan kanan lalu diminta menulis dengan tangan kiri. Bisa saja dilakukan, tetapi proses adaptasinya tidak cepat.

    Pelajaran Penting untuk Orang Tua

    Dari pengalaman ini, Sudibyo sadar bahwa ia mungkin telah membuat anaknya kehilangan waktu latihan yang sangat berharga. Bukan karena Nadia malas, tetapi karena media latihannya kurang mendukung perkembangan piano technique yang sebenarnya. Anak yang tidak berlatih dengan piano akan lebih lama membangun kebiasaan yang dibutuhkan untuk permainan yang ekspresif.

    Karena itulah, penguji Royal sekarang sangat memperhatikan touch dalam piano performance. Bahkan anak yang sudah bisa memainkan lagu dengan benar tetap bisa mendapat komentar negatif jika jari-jari belum cukup kuat dan kontrol dinamika belum terbentuk. Dalam banyak kasus, penyebab utamanya sederhana: murid belum memiliki piano di rumah.

    Standar Latihan yang Benar

    Sesuai dengan Royal Requirements, Duta Nada sangat menekankan pentingnya touch dalam permainan piano. Maka itu, bagi murid yang akan mengikuti Grade 1 ke atas, memiliki piano di rumah menjadi kebutuhan penting. Tanpa latihan rutin dengan piano yang sesungguhnya, hasil ujian dan kualitas permainan akan sangat sulit mencapai standar yang diharapkan.

    Kalau orang tua ingin berdiskusi lebih lanjut soal hal ini, silakan menghubungi kami. Kami dengan senang hati akan membahas kebutuhan latihan yang paling tepat untuk anak Anda.

    Artikel ini ditulis oleh Kurnia Kwik, Principal Dutanada Music School, berdasarkan 2 decades of the establishment of music school since 2003.