skip to Main Content
021-5806056 DutaNada@Gmail.Com

Menggapai Impian ABRSM Distinction dan no 1 Piano Kompetisi – Kafka Aurelia Mourin

Siapa sebenarnya Kafka Aurelia Mourin itu? Mungkin tak banyak orang yang mengenal sosoknya, mengingat dia bukanlah selebritis. Ya, Kafka hanyalah gadis biasa berumur 10 tahun yang hobi dengan dunia musik, khususnya piano.
Akan tetapi di tahun 2017 kemarin, ia berhasil memeroleh predikat Distinction di ABRSM exam grade 1 – Piano. Tak hanya itu saja, 2018 ini, Kafka kembali menorehkan prestasi baru saat mendapatkan peringkat pertama di ajang Piano Competition yang diadakan oleh Essex Piano – Indonesia Piano Competition 2018.

 

Gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 tersebut menjadi salah satu bukti nyata bahwa impian dapat dicapai oleh siapa saja dan juga kapanpun. Tak perlu menunggu dewasa untuk mewujudkan apa yang diinginkan. Lantas kira-kira faktor apa saja yang membuat gadis muda ini sukses di usianya yang masih belia?

 

Kafka bersama Marsela Syafei – guru pembimbing dari Sekolah Musik Dutanada

Dukungan orang tua

Prestasi Kafka tentunya tak lepas dari peran orang tuanya, dalam hal ini sang ayah. Sejak memutuskan belajar musik 2 tahun lalu, sang ayah – Bapak Hendratmoko Listiawan – tak henti-hentinya memberikan dukungan penuh.

Beliau sangat setia dalam mengantar dan mendampingi (kapanpun bisa) buah hatinya saat belajar di sekolah musik. Bukannya bersikap paranoid, Bapak Hendratmoko melakukan itu supaya metode pengajarannya tidak berbeda dari yang diberikan oleh sekolah. Hal ini sangat penting supaya anak tidak sampai bingung.

Kafka memang mengenal dunia musik dari ayahnya yang juga seorang pemusik, khususnya jenis Pentatonik/ Kerawitan. Walau demikian, Bapak Hendratmoko tak pernah memaksa putrinya untuk mengikuti jejaknya. Beliau hanya mengenalkan dunia musik saja.

Tahu-tahu Kafka sendirilah yang kemudian mau berlatih piano setiap hari karena terlanjur jatuh cinta pada alat musik dengan tut hitam-putih itu. Siswa yang menonjol di pelajaran PKN dan IPS inipun tak pernah merasa terbebani saat berlatih. Ia merasa bermain piano adalah hobi, dan bukan tuntutan.

 

Wadah (sekolah musik)  yang tepat

Selain dukungan orang tua, Bapak Hendratmoko juga memahami bahwa talenta buah hatinya perlu dikembangkan dalam wadah yang tepat. Tidak cukup hanya dengan belajar di rumah saja jika ingin menoreh prestasi yang membanggakan. Oleh karenanya, beliaupun melakukan survei – kira-kira sekolah musik mana di kotanya yang terbaik untuk sang buah hati.

Setelah mengunjungi dan mencari tahu soal kurikulum serta sistem pengajaran 5-6 sekolah musik unggulan di Jakarta Barat, pilihannya pun jatuh pada Sekolah Musik Dutanada. Mengapa Dutanada? Alasan beliau adalah hanya Dutanada yang dapat memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan beliau tentang kurikulum, metode mengajar serta prestasi murid-muridnya.

Jadi parents, jika ingin buah hati berprestasi, biarkan ia mengembangkan talenta atau apa yang menjadi kesukaannya. Dengan begitu anak takkan merasa tertekan. Setelah itu berikan dukungan penuh, salah satunya dengan menyediakan wadah terbaik yang teruji kualifikasinya, contohnya seperti Sekolah Musik Dutanada tadi.

 

 

Back To Top